Hancurkan Pornografi

Umpama bumi ini datar seperti kata orang-orang zaman dulu, mungkin kata-kata “bumi sekarang sudah terbalik” udah pantas untuk diucapin. Gimana enggak, wong saat ini boleh dibilang, antara yang bener dan yang salah udah susah dibedain. Pornografi dan pornoaksi adalah salah satu contoh yang gamblang. Kita udah ga ga bias nutup mata ama deretan berbagai peristiwa dan kasus pornografi dan pornoaksi yang terjadi di negeri “M****” ini. Bukannya semakin redup dari masa ke masa, tapi kasus pornografi tambah ngebikin nepuk dada dan geleng kepala. Bentar..kita geleng kepala dulu…

Nah sobat, ngomongin soal pornografi dan pornoaksi, sebenarnya kita juga aga risih lho…Tapi hal ini mau ga mau, kudu kita jelasin. Kenapa? Udah terlalu banyak hal-hal berbau porno di sekitar kita. Apalagi banyak juga orang yang punya nama Porno..Eh salah itu Parno mas…hehehe. Nah, hal-hal yang nyerempet, nyenggol dan nabrak pornografi pun udah tumbuh subur bak lumut di musim hujan (bosan ah jamur terus…). Jadi sebenarnya masalah pornografi bukan rahasia lagi. Segudang hal yang bernafas mesum diobral rame-rame, bahkan ga heran sekarang udah jadi komoditi masal.

Sobat, ehem…kalo kita amati nih ya..sebenarnya maraknya kasus pornografi dan pornoaksi di bumi tempat kita berpijak ini punya banyak sebab. Salah satu akar masalahnya yaitu, biasnya pemahaman umat. Iya..pemahaman yang bias alias ga jelas. Kita kadang kejebak ama omongan orang yang nyamain antara pornografi dan seni, antara porno dan bisnis, porno dan mode atau antara porno dan hiburan. Itulah ruwetnya demokrasi. Masih ingat lukisan bertajuk Adam dan Hawa lagi nampangin foto kang Anjasmara yang dengan polosnya berpose. Ada sekelompok orang yang ngatakan itu adalah art alias seni…Kita juga ngerti kalo beberapa tahun lalu, negeri ini heboh ama goyang ngebornya Inul Daratista. Yang secara ga langsung menjadi perintis goyang-goyang yang lain (kecuali kursi goyang hehe…), seperti ngecornya Uut Permatasari dan patah-patahnya si Annisa Bahar. Kita sebenarnya ngerti bener kalo hal semacam itu udah termasuk pornoaksi. Tapi, tetep aja ada beberapa orang yang nyebutin kalo hal semacam itu adalah profesionalisme dunia entertainment alias hiburan. Belum lagi kasus terbitnya majalah Playboy edisi Indonesia.. Beberapa kalangan ngatakan itu adalah kebebasan pers dalam dunia bisnis. Memang sih, bisnis porno di beberapa negeri, jadi ladang uang yang menguntungkan.

Tapi keuntungan untuk segelintir orang semacam itu, ga seharusnya membuat kita korbankan harga diri, iman, pikiran dan jiwa penerus negeri Islam. Ga sebanding deh antara uang dan dosa, serta akibat yang disebabin oleh pornografi. Berapa banyak wanita yang jadi korban pemerkosaan dan kehilangan masa depan…??Berapa banyak anak-anak yang dipaksa melacurkan diri…? Apa ga cukup semua kebejatan moral dan etika yang diumbar dan ga jelas kapan berakhirnya…?? Tanya kenapa??iklan rokok kalee hhehe

Malahan, seringkali kita yang ga paham, justru akhirnya nuding balik ke pihak yang ngelarang aksi porno bertaburan. Misal ada ulama yang protes karena Agnes Monica ketika tampil ke panggung mesti bergaya seronok dan kebarat-baratan. Kita yang kemakan oleh opini mode, malah nuduh ulama sekarang ga gaul dan serba kuno…walah kok gini to neng.

Sobat, kita kasih gambaran dikit deh. Kalo sebuah pohon punya akar yang rapuh, ga bakal deh pohon itu bisa bertahan lama. Kena banjir dikit aja bakalan tumbang dan kebawa air. Begitu juga ama pondasi pemahaman kita. Kita yang ga paham dengan larangan pornografi dalam Islam, akan gampang kebawa arus omongan orang lain. Yang parah, malahan kita merasa Islam ga ngatur tentang larangan pornografi dan pornoaksi, dan berbalik nentang para ulama yang mengharamkan hal itu. Bujubuset…ga salah tuh…

Btw, sebab lain yang jadiin pornografi dan pornoaksi semakin meluber di negeri kita adalah ga adanya aturan yang jelas tentang apa itu pornografi dan pornoaksi. Meski UU anti-pornografi sudah dibahas, tetap aja banyak ngalami kebuntuan karena ga adanya pemahaman yang jelas tentang apa itu porno. Beberapa pengamat media, ngakui sendiri akan hal itu. Dia mengatakan kalo batasan pornografi adalah yang melanggar batas-batas kesusilaan dan ada unsur membangkitkan birahi. Nah, disinilah problemnya. Bila ini yang dijadikan pijakan, malah UU yang dibuat akan kembali bias. Soalnya tiap negara memiliki perbedaan budaya dan etika, dan ga dikit yang saling tolak belakang. Semisal, kalo di Amerika memakai bikini di pantai adalah hal yang lumrah, sedangkan disini merupakan sebuah hal yang tabu. Bila di Denmark punya alasan kebebasan pers dan nggambarin karikatur Rasulullah (moga Allah membalas perbuatan mereka..), maka di negeri kita, kebebasan semacam itu dinilai pro dan kontra. Meski para polisi menyita ratusan tabloid, majalah dan VCD porno, namun otak-otak berduit di belakangnya masih aja kipas-kipas sambil duduk di kursi goyang, sambil minum kopi dan makan pisang goreng. Walah…jangan sampe deh penegakan hukum jadi fantasi sesaat…

Back to Islam, menyelamatkan manusia

Sobat, Islam sebagai Din yang kafah, jauh-jauh hari udah ngasih aturan yang jelas tentang hal ini. Di ilmu fiqh aja, kita udah kenal dengan apa itu aurat dan batasannya. Untuk laki-laki, aurat adalah bagian pusar hingga lutut, sedang untuk wanita adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Nah, aurat ini ga boleh diumbar dengan alasan apapun. Khususon buat kamu-kamu yang udah baligh alias gede. Ini merupakan sebuah aturan preventif alias penjagaan terhadap individu manusia, supaya ga kejebak di lembah porno.

Di masyarakat, Islam punya peran untuk nyatukan pemikiran, perasaan dan aturan di masyarakat supaya menjadi satu dalam Islam. Kita paham bener gimana Islam dulu bisa mempersatukan semua kabilah di jazirah Arab, yang sebelumnya saling benci dan saling berperang. So, ngelihat baik dan buruknya segala sesuatu berdasar Islam. Bukan pada adat atau budaya. Karena lagi-lagi bakal bias alias ga jelas…Apalagi dalam Al Qur’an, kita diwajibkan mengimani seluruhnya, bukan hanya sebagian. Kalo Islam mewajibkan sholat, Islam juga melarang kita berjudi. Kalo Islam mewajibkan puasa, Islam juga ngelarang kita mengumbar aurat. Bila masyarakat udah punya pemikiran, perasaan dan aturan yang satu..tenang deh kita tinggal di kampung kita.

Nah sobat, masalah pornografi bukan cuma urusan pribadi. Sebab, ini juga nyantol di masyarakat dan jadi polemik di negara. Maka udah jelas, kita kudu kembali ke Islam…biar umat bisa diselamatkan, alias ga punah. Bila enggak..siap-siap aja deh ngadapi rapuhnya iman, hancurnya keluarga, bobroknya masyarakat dan jatuhnya negara di depan mata. ….

katanya bintang Film Mas Parno akan datang dan shuting di indonesia??? owh…..

2 komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang mengatakan...

hehehe trus kedah kumaha atuh ari nu nulisna resep keneh ngintip miyabi wkekekekeke

saha cing mengatakan...

saur saha etateh kang??:)

Posting Komentar

Related Websites

Archives

Followers