Ketika Anak Hilang Percaya Diri

Kerika anak hilang Percaya diri.

Wajahnya pucat, matanya nanar, mulutnya terdiam, pandangannya tertuju pada telunjuk-telunjuk yang terarah pada mukanya. Badannya dihentakkan, kepalanya di’degung’kan, kakinya ditendang, teriak yang memekakkan nyaring terdengar di telinganya dan kadang kala kata-kata kotor pada keluar yang di tumpahkan ke itu anak. Mereka semua memaki, kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Entah kenapa, teman-teman sekolahnya berlaku seperti itu. Apa salah anak itu sehingga teman-temannya merasa punya hak untuk menghakimi, mencaci dan memaki.

Ya mungkin sebagian orang akan berpendapat, namanya juga anak-anak. Tapi kalau di biarkan seperti ini, anak yang sudah keterlaluan akan menjadi terbiasa menjadi orang pemaki dan menghadapi masa pertumbuhan akan dijauhi oleh teman-temannya karena kelakuannya.

Tapi kita kembalikan lagi kelingkungan kita, apakah lingkungan kita sudah benar menerapkan kesopanan dan saling menghormati yang di mulai dari anak-anak kita??Itu kembali kediri kita masing-masing, karena awal kedipsiplinan anak dimulai dari kita yang harus siap mengontrol.

Kembali lagi ke anak yang di maki-maki tadi.
Dia hanya sendirian, berhadapan dengan belasan temannya yang garang bagai singa yang kelaparan. Kulerai mereka. Terus terang aku emosi. Aku teriaki mereka, ini sudah keterlaluan. Sambil aku mengusap kepalanya supa berhenti dari isak tangisnya.

Kemudian anak itu berjalan, menyusuri jalan kampung yang kering oleh matahari. Kepalanya menunduk ke bawah. Mencari… masih adakah cinta di bumi. Hatinya hancur, harga dirinya ambruk, tak ada lagi percaya diri.

Ya.. mungkin, mungkin saja hal itu bisa terobati. Jika ketika anak itu kembali, mereka disambut dengan senyum orang tuanya, didengar kisah pedihnya, dan dibelai dengan penuh kasih sayang, direngkuh dalam pelukan hangat ibunda, dipangku oleh genggaman kuat ayahanda, dan dibisikki kata bijaksana seorang orangtua .

Rumah adalah markas, rumah adalah barak. Di sanalah tempat menyusun kekuatan sebelum kembali berlaga di medan pertempuran. Tempat mengisi kembali batere yang habis dipakai seharian. Sehingga hati kembali berenergi, wajah kembali bercahaya, dan hidup akan terlihat begitu indahnya.

Rumahku Surgaku

8 komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


mimi mengatakan...

Info yang bagus sobat...slam kenal jua dari mimi

BUNGA RAYA mengatakan...

info ci frenk mah jitu wae euy timana meunang idena sob? pasihan atuh tipsnya

rizalsaputra81 mengatakan...

info yang bagus mas, anda sudah aku follow, follow balik yah

Bukan Sekedar Blogger Bertuah mengatakan...

Sebagai seorang Ibu, saya paling gak suka lihat anak yang di marahi, di jatuhi harga dirinya, di lecehkan sehingga hilang rasa percaya dirinya.
Hukuman itu sah sah saja, asalkan sesuai porsinya dan bersifat mendidik.

Thanks sudah mampir ya kang, salam Bertuah ! :D

om_rame mengatakan...

marah boLeh tetapi kepada haL-haL yg prinsip dan mengandung etika daLam penyampaiannya.
perkembangan anak juga dipengaruhi oLeh Lingkungan, biLa orangtua-nya adaLah pribadi yg pemarah & ditunjukkan kpd anak2nya, secara tdk Langsung itu juga sudah menjadi sutu sistematis pendidikan untuk mengarahkan anak kpd pribadi tsb.
-------------
saLam kenaL sadayana.

agung ap mengatakan...

banyak saya liat anak2 n remaja2 yg memaki temennya... bagi mereka yg memaki tu merasa menyenangkan, tp yg dimaki.... knp bsa bgitu ya??

agung ap mengatakan...

sob, mau tukeran link?

Sriayu mengatakan...

Rumah adalah madrasah yang pertama buat anak. Apa yang biasa dilakukan di rumah akan terbawa kemana dan dimana saja. Tidak mudah membentuk karakter anak yang di rumah sudah kenyang dengan pelakuan kasar dan kata-kata yang tidak nyaman.
Jadi ingat kata-kata Ali bin Abi Thalib: "Didiklah anakmu untuk masa yang bukan masamu".

Salam kreatifitas teman.

Posting Komentar

Related Websites

Archives

Followers