Penyerangan Polsek Hamparan perak Terkait Terorisme

Terkait terorisme

Polisi menduga kuat, pelaku penyerangan mapolsek hamparan perak ini ada hubungannya dengan pelaku perampokan Bank CIMB Niaga terkait terorisme. "Pasti terkait dengan itu (terorisme). Ini terkait pelaku perampokan di CIMB. Soalnya mereka itu orang terlatih," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Polisi Iskandar Hasan kepada detikcom. Meskipun terlatih, namun Iskandar menangkis pelakunya dari unsur TNI.

Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, tempat terjadinya pembantaian itu adalah salah satu wilayah penggerebekan tersangka teroris oleh Densus 88 di Sumut. Dari wilayah itu, Densus berhasil menangkap tiga dari 19 tersangka teroris, yakni Marwan alias Wakno alias Wakgeng (39), Kasman Hadiyono alias Yono (43), dan Surya Saputra. Marwan dan Surya tertembak masing-masing di bagian paha dan kaki.

Untuk memburu para pelaku, Polda Sumut menerjunkan satuan Brigade Mobil (Brimbob). Lokasi kini telah dipasangi garis polisi, meski demikian warga sekitar terus berdatangan untuk melihat dari dekat tempat kejadian perkara. "Saat ini Brimob sudah dikerahkan untuk mengejar tersangka. Mereka (pelaku) menggunakan senjata, jadi tidak main-main," ujar Kapolda Sumut, Irjen Pol Oegroseno, kepada wartawan di lokasi kejadian.

Oegroseno menegaskan status keamanan wilayah Polda Sumut dalam kondisi seluruh personel waspada. "Bukan siaga, tapi seluruh personel waspada," tutupnya

Intelijen Polri lemah

Sementara itu, salah seorang anggota DPR mengatakan, kalau serangan itu terkait dengan gerakan terorisme, maka intelijen Polri dinilai lemah. "Kalau benar itu teroris yang melakukan 'pembalasan', operasi intelijennya lemah," kata Wakil Ketua Komisi I (pertahanan), T.B. Hasanuddin, kepada media kemarin . "Operasi intelijen kita kurang tajam, tidak mampu melumpuhkan mereka sebelum mereka bergerak," imbuhnya.

Punawirawan TNI berpangkat terakhir mayor jenderal ini mengatakan, seharusnya setelah menangkap sejumlah tersangka teroris, Polri mendalami semua informasi dari mereka. "Informasi harus dieksploitasi dulu, di mana kegiatan berpusat, dari mana senjata mereka didapat. Baru dilakukan operasi pembersihan," kata poitisi PDIP ini. "Jangan belum menangkap semuanya, ini sudah mendapat serangan balasan," kata mantan sekretaris militer era Megawati dan SBY ini.

Sementara pengamat militer Mardigu W.P. mengatakan sebagaimana informasinya di dapat oleh Blogger Garsel, penyerangan ini adalah bentuk eksitensi karena kondisi mereka sudah terdesak. "Mereka terpojok, terus frontal karena terdesak sehingga menyerang," ujarnya.

Mardigu menjelaskan para teroris tersebut melakukan aksi bertahan karena ruang lingkup mereka semakin sempit. "Ini bentuk upaya defense. Mereka terdesak marah, enggak ada support makanan dan mereka juga buron," imbuhnya.

Menurut Mardigu penyerangan teroris kepada kantor polisi bukan pertama kali terjadi. Namun biasanya tujuan mereka menyerang adalah mengambil senjata atau membebaskan rekan mereka yang ditahan. "Di Ambon dan di Poso sering terjadi penyerangan ke kantor polisi. Jadi ini bukan pertama kalinya," tambahnya.

Mardigu belum bisa menduga aksi penyerangan ini dilakukan kelompok teroris yang dipimpin oleh siapa. "Itu yang belum kita dapat datanya. Tapi kalau dilihat dari aksi penyerangannya, orang-orang ini pernah berlatih di Aceh, Ambon, dan Poso," jelasnya.

Apakah bisa dibilang ini upaya balas dendam dari teroris karena rekannya banyak ditangkap? "Bisa dibilang begitu," tutupnya.

0 komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Posting Komentar

Related Websites

Archives

Followers