Cheat Point Blank 9 Oktober 2010

Cheat Point Blank adalah sebuah game yang saat ini sangat di gemari di indonesia, mulai dari anaka-anak sampai yang dewasa, di indonesia tempat main game itu sangat mudah di dapat. Karena Game di indonesia ham[ir di setiap wilayah ada, mulai dari kota sampai desa. Tak heran bila ada game baru muncul di indonesia, langsung di serbu oleh pecinta game. Game point blank banyak yang nyari saat ini, mulai dari yang sudah kecanduan game dan ada juga yang pingin tahu apa itu game online isinya. Dari rasa penasaran dan kebiasaan itulah game online terus berkembang di negri ini.

Berapa besar penghasilan seorang pengembang game di dunia? Beberapa survei di Amerika mencatat penghasilan rata-rata pembuat game di negara itu mencapai US$ 80 ribu atau sekitar Rp 720 juta per tahun. Angka yang menggiurkan untuk ukuran hidup di Indonesia.

Bagaimana dengan penggiat industri game di sini? Fakta mencatat beberapa pengembang game memiliki penghasilan yang tak kalah bahkan melebihi penghasilan pembuat game di Negeri Abang Sam. Misalnya Roy Winata, pendiri sekaligus pembuat aplikasi di GDI Plus, yang mampu memasarkan game buatannya lewat Apple Store dengan penghasilan miliaran rupiah.

Dengan pengalamannya, wajar jika Roy Winata punya cerita bagaimana mendapatkan uang dan menjual game. Dia menuturkan, saat masih menjadi bos PT Global Dinamika Informatika (GDI), salah satu pekerjaan utamanya adalah meyakinkan manajemen perusahaan-perusahaan agar mau menggunakan jasanya membuat aplikasi atau peranti lunak. “Setelah klien yakin, program atau game akan dibuat sesuai dengan pesanan,” kata Roy, pendiri sekaligus pembuat aplikasi di GDI Plus.

Penghasilan terbesar datang saat Roy mendirikan GDI Plus, yang spesialis membuat game untuk iPhone dan iPad. Memang bukan perkara mudah. Roy mesti meyakinkan semua pengguna iPhone di seluruh dunia agar menggunakan aplikasi miliknya. “Jika suka, diunduh. Jika tidak, ya tidak dapat apa-apa,” katanya.

Roy menceritakan, GDI pertama kali menjual iWriteWords (aplikasi game belajar untuk anak di bawah lima tahun) pada awal 2009, dengan memasang harga US$ 0,99. “Harga ditentukan sendiri (Roy) sebagai pengembang aplikasi game,” katanya. Apabila laku, pengembang seperti GDI Plus akan mendapat 70 persen per unduhan aplikasi game oleh pelanggan di Apple Store. Tentu saja, sisanya (30 persen) untuk Apple Inc.

Harga murah disertai kualitas yang ajib membuat game buatan Roy laku di pasar. Begitu merasa laku, Roy langsung menaikkan harga menjadi US$ 2,99. Tapi kenaikan harga ini membuat pembeli mundur, sehingga harga diturunkan kembali menjadi US$ 1,99. “Tidak semua kenaikan harga langsung membuat pemasukan bertambah,” kata Roy. Setelah iWriteWords menjadi produk yang sangat laku, baru harganya dinaikkan menjadi US$ 2,99, yang bertahan sampai sekarang.

Meski sukses, Roy masih meraba-raba game seperti apa yang bakal laku di pasar. Setelah iWriteWords, Roy menduga aplikasi permainan untuk anak-anak pasti akan sukses. Sehingga Roy dan rekannya di GDI Plus, Agustinus, memutuskan membuat beberapa aplikasi lain untuk anak-anak. Hasilnya? Buruk. Bahkan ada yang hanya menghasilkan pemasukan kurang dari Rp 4 juta. “Akhirnya kami percaya, kalau tujuan dari awal mencari uang, hasilnya malah buruk,” kata Agustinus.

Kepercayaan itu bertambah karena dua aplikasi yang dibuat Agustinus, iNews dan Blogshelf, juga sukses meraup ratusan juta rupiah. Uniknya, kedua aplikasi buatan Agustinus dibuat karena rasa senang. “Bukan semata untuk mendapat uang sebanyak-banyaknya,” kata Roy. Saat ini mereka sudah mengumpulkan lebih dari Rp 2 miliar dari game-game yang dilepas mulai tahun lalu itu. Sumbangan terbesar datang dari iWriteWords, yang memberikan penghasilan sekitar Rp 800 juta.

Siapa pun bisa meniru apa yang dilakukan Roy dan Agustinus. Caranya sederhana: bikin game, letakkan di situs Apple, tunggu persetujuan dari Apple, dan dipajang.


Di samping menjual di Apple Store, ada model-model bisnis lain. Cara yang satu ini banyak dilakukan pengembang di Indonesia: menerima pesanan dari perusahaan game luar negeri alias outsourcing. Ada pula model bisnis dengan menjual game Flash lewat sponsorship. Biasanya sponsor berasal dari portal game milik luar negeri, seperti armorgames.com, crazymonkeygames.com, dan kongerade.com. Mereka rela membayar game buatan pengembang game di seluruh dunia dengan harga antara US$ 100 dan US$ 20 ribu. “Saya pernah mendapat sponsorship untuk satu game Flash seharga US$ 6.500,” kata pengembang game dan animasi, Malin Sugema.

0 komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Posting Komentar

Related Websites

Archives

Followers