Dollywood Surabaya

Humas Forum Komunikasi Masyarakat Lokalisasi Surabaya yang juga mucikari Dolly, Mario, menolak rencana pemasangan kamera pengintai Closed Circuit Television (CCTV) di sejumlah titik di lokalisasi terbesar di Indonesia tersebut.

“Kegiatan di Dolly adalah privasi. Dolly bukan berada di jalan protokol yang harus dipasang CCTV, tapi ini perkampungan,” ujar Mario, mantan pengelola Wisma Dollywood ini, Senin (25/10).

Jika pemasangan CCTV dilakukan, Mario khawatir Dolly akan sepi karena para tamu bisa ketahuan. Namun, dia mengingatkan kemungkinan sebaliknya bisa juga terjadi. Kemungkinan itu para tamu tetap mem-booking PSK Dolly, namun ‘mainnya’ di luar. Bisa di hotel atau tempat lain, sehingga rencana pemerintah mengurangi praktik prostitusi bisa saja tidak berhasil, malahan praktiknya menyebar di luar lokalisasi.

Mario mengatakan, jumlah pengunjung di Dolly sebanyak 500-600 orang per malam. Ia menambahkan, kegiatan di Dolly selama ini telah mampu menghidupi ekonomi warga setempat. “Delapan puluh persen ekonomi warga setempat tergantung dengan aktivitas di Gang Dolly,” lanjut Mario.

Pasalnya, komponen pendukung bisnis seks ini juga sangat banyak, sehingga kemudian dimanfaatkan dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar lokalisasi Dolly. Misalnya, juru parkir, tukang becak, sopir taksi, pramuwisma (makelar), linmas, PKL, tukang cuci, pitrad (pijat), purel, artis, musisi, MC, dan masih banyak lagi. Di belakang, mereka ada istri dan anak-anaknya yang butuh makan, uang sekolah, dan lain-lain. Artinya, mereka butuh pekerjaan lain bila Dolly dilibas dari sejarah hitam kota ini.

Mario mengatakan, Pemkot Surabaya memang menyebut tidak menutup Dolly, namun dengan memasang CCTV sama saja mematikan Dolly. Padahal, lanjut dia, selama ini Pemkot telah melarang pekerja seks komersial (PSK) pendatang ataupun mucikari baru. “Kami pasti menolak pemasangan CCTV,” ujar dia.

Perlu diketahui yang dimaksud dengan Gang Dolly adalah Jalan Kupang Gunung Timur Gang I Surabaya. Jalan sepanjang kurang dari 500 meter itu terdapat sebanyak 36 wisma (rumah) dan mampu menampung sekitar 500 orang wanita yang berprofesi sebagai PSK. Selain di Gang Dolly, lokalisasi Dolly Surabaya juga melebar hingga ke kawasan Jalan Putat Jaya C Timur dan Jalan Jarak Surabaya. Namun, jika dilihat dari teritorial, seluruh wilayah lokalisasi Dolly itu masuk wilayah Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. Jika ketiga lokasi itu digabung maka jumlah PSK-nya pada tahun ini mencapai 1.200-an orang. Pada 2009 malah tercatat ada lebih 1.300 PSK.

Pada awal 1960-an, daerah yang kini disebut Dolly adalah kawasan pemakaman China di pinggiran kota Surabaya yang kala itu sepi. Pada 1967, mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina bernama Dolly Khavit mendirikan rumah pelacuran di kawasan Jl Dukuh Kupang Timur I, Surabaya tersebut. Lantaran dianggap perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama kawasan itu. Dari hanya segelintir wisma, pada 1980-an Dolly berkembang menjadi kawasan pelacuran yang ramai.

Pada November 2007 mulai muncul wacana Dolly akan dipindah ke ujung Surabaya Barat, yaitu Romo Kalisari, atau ke Keputih, Surabaya Timur. Bahkan, ada usulan dipindah ke Pulau Sapeken —pulau terpencil di Kabupaten Sumenep, Madura.

Lalu Januari 2008, muncul kesepakatan Komisi A DPRD dan Pemkot Surabaya untuk menutup Dolly. Diberi waktu tiga tahun (hingga 2011) untuk tahapan penutupan, yang dimulai dengan studi kelayakan. Pada 30 Maret 2010, Wagub Jatim Saifulah Yusuf yang telah mendapat persetujuan Gubernur Soekarwo mengusulkan ke Wali Kota Surabaya kala itu, Bambang DH, agar Dolly segera ditutup. Dan pada Senin (25/10), muncul lontaran dari Saifulah Yusuf agar wisma-wisma di Dolly dipasang CCTV.

Keresahan pemerintah jika Dolly tidak segera ditutup, terutama karena terus meningkatkan penyakit HIV/AIDS. Data di Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya, menyebutkan, jumlah PSK yang terkena HIV/AIDS terus meningkat tiap tahun. Pada tahun 2006 hanya sekitar 65 orang. Tapi, pada tahun 2007 meningkat menjadi 160 orang. Pada tahun 2008 bertambah menjadi 232 orang dan akhir 2009 meningkat lagi menjadi 278 orang.

Berdasarkan data Puskesmas Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, dari jumlah PSK lokalisasi Dolly mencapai 1.200 orang, sekitar 76 persen di antaranya menderita penyakit seks menular, seperti gonore, sifilis, herpes, hingga HIV/AIDS. Yang mengerikan, untuk tahun 2010 ini saja sudah ditemukan 16 PSK baru yang mengidap virus mematikan ini.

Dengan demikian, total PSK lokalisasi Dolly yang terinfeksi virus HIV/AIDS tahun 2010 ini sebanyak 62 orang. Ini artinya, Dolly ibarat lembah maut, sebab para PSK itu bisa jadi menularkan pada pria hidung belang yang setiap hari mendatangi mereka. Bila pria hidung belang ini ternyata terkena HIV, dia akan jadi sumber penularan baru ke keluarganya.

1 komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


java network mengatakan...

sip banget

Posting Komentar

Related Websites

Archives

Followers