Jemaah Haji 2010

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia, Syairozi Dimyati menyatakan penambahan 10.000 kuota haji Indonesia tahun ini tidak menyebabkan perubahan jumlah maktab atau kemah penginapan di Armina (Arafah-Musdalifah-Mina). Hal itu disebabkan ke-71 maktab milik Indonesia di Armina, saat ini mengalami penyeragaman kapasitas dari sebelumnya 2.500 orang per maktab menjadi 2.750 orang.

“Artinya, masih ada sisa buat 50 orang per maktab, sehingga penambahan jemaah sebanyak 10 ribu orang masih bisa kami atasi,” kata Syairozi Dimyati di Jeddah, Kamis (14/10). Itu pun, menurut Ketua PPIH, masih terdapat ruang tambahan untuk kapasitas 250 orang. Kapasitas maksimal maktab sebenarnya untuk 3.000 jemaah.

Menurutnya, sebelum penambahan 10.000 orang, jemaah haji Indonesia terbagi menjadi dua bagian: 6.500 orang untuk jemaah haji khusus (ONH Plus) dan sisanya 3.500 orang adalah jemaah haji regular. Nantinya, sebanyak 221.000 jemaah haji Indonesia akan melakukan wukuf di Arafah. Dilanjutkan mabit di Musdalifah dan melempar jumrah di Mina.

Penambahan kuota haji dari berbagai negara dikhawatirkan akan lebih memadatkan lagi jumlah orang di Armina. Pada tahun sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi telah memperlebar wilayah di Mina dengan nama daerah Mina Jadid. Hal ini untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah kuota haji di seluruh dunia dari Pemerintah Arab Saudi. Di sisi lain ada pendapat ulama yang mengatakan pelebaran area di sekitar Mina tidak sah, sebab wilayah pelebaran pada dasarnya tidak masuk lagi wilayah Mina.

Jaket dan madu
Sementara itu Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama Rembang, Jawa Tengah, Muhammad Mahmudi mengingatkan agar calon haji dari Indonesia kali ini sebaiknya membawa jaket dan madu, saat akan berangkat ke Arab Saudi. Soalnya, menurut Muhammad Mahmudi, di Rembang Kamis, saat ini cuaca di Mekkah, cenderung panas, yakni sekitar 30 derajat Celcius pada siang hari dan sangat dingin pada malamnya.

“Kami minta jemaah calon haji membawa jaket sebagai pelindung badan dan madu untuk menjaga stamina, sebab suhu yang terlalu tinggi dimungkinkan akan mengganggu proses ibadah haji,” katanya. Menurutnya, saat ini di Mekkah dan Madinah memang sudah memasuki musim panas dengan suhu pada siang hari diperkirakan sekitar 30 derajat Celsius.

“Cuaca di sana panas, apalagi sifat udaranya sangat kering dan bisa mengakibatkan kulit kering dan bibir pecah-pecah,” ucapnya. Dia uraikan, dengan mengoleskan madu pada permukaan kulit yang kering dan bibir pecah-pecah, maka kerusakan kulit tidak bertambah parah. “Sementara pada malam harinya, udara di Mekkah sangat dingin, sehingga jaket atau pakaian tebal diperlukan untuk penghangat badan,” katanya.

Tempati Syamaliah
Sementara itu, 167 CJH asal Aceh Barat akan menempati wilayah Aziziah Syamaliah, saat berhaji di Mekkah. Tamu Allah yang berasal dari Bumi Teuku Umar dan tergabung dalam kloter 02 embarkasi Banda Aceh itu juga bergabung dengan JCH Aceh Jaya sebanyak 78 orang dan JCH Aceh Besar 73 orang.

Hal itu diungkapkan Kabag Humas Setdakab Aceh Barat, Mulyagus SSTP MSi dalam siaran pers yang diterima Serambi, Kamis (14/10) kemarin. Menurutnya, selama berada di Tanah Suci, semua persiapan dan kelengkapan jemaah telah dipersiapkan dengan baik. Bahkan dalam pelepasan JCH di Asrama Haji Banda Aceh yang dilakukan Bupati Aceh Barat, Ramli MS, turut didampingi Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs A Rahman TB Lt.

Dalam kesempatan itu Bupati Ramli berpesan supaya para jemaah mendoakan masyarakat di Aceh Barat selalu dalam lindungan Allah dan terhindar dari segala bencana dan musibah. Dalam kloter II tersebut, kata Mulyagus, jemaah termuda bernama Siti Fatimah binti Zulkifli Muhammad asal Desa Lamgampang, Ingin Jaya, Aceh Besar dan jemaah tertua bernama Teuku Raja Sulaiman bin T Nyak Ali asal Desa Kuta Padang, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat.

0 komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Posting Komentar

Related Websites

Archives

Followers